Wednesday, 27 February 2019

Televisi


                Penyiaran televisi saat ini tidak lagi menjadi monopoli Jakarta. Fenomena menjamurnya televisi lokal di berbagai daerah dapat dijadikan faktor indikator telah menyebarnya sumber daya penyiaran. Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), sebuah organisasi tembpat bergabungnya televisi lokal yang berdiri pada 26 Juli 2002, hingga saat ini telah menghimpun sebanyak 23 industri televisi lokal. Anggotanya tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia, ada Bandung TV di Bandung, Bali TV di Bali, Riau TV di Pekanbaru Riau, dan berbagai daerah lainnya. Belum lagi keberadaan televisi lokal lainnya yang belum terdaftar sama sekali. Dapat dibayangkan betapa ramainya udara Indonesia di masa yang akan datang dengan maraknya televisi lokal yang akan bermunculan. Menggeliatnya perkembangan televisi lokal tidak seindah yang dibayangkan. Televisi lokal yang sudah beroperasi banyak yang berjibaku dengan masalah internalnya, dari persoalan buruknya manajemen, baik manajemen sumber daya manusianya maupun manajemen keuangannya, hingga pada persoalan sulitnya mendapat share iklan.
                Ada beberapa jenis televisi di dunia terutama Indonesia. Televisi yang kita kenal terdiri dari dua jenis, yakni televisi hitam putih dan televisi berwarna dari warna yang dihasilkan. Pada televisi hitam putih tidak dapat melihat gambar sesuai dengan warna aslinya. Apapun yang terlihat di layar kaca hanya tampak warna hitam dan putih. Hal ini sangat berbeda dengan televisi berwarna, yakni warna gambar yang dihasilkan lalu ditampilkan di layar  akan terlihat menyerupai sebagai mana aslinya.
                Dilihat dari cara penggunaannya televisi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1.       Televisi Analog
Televisi Analog merupakan televisi yang mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase atau frekuensi dari sinyal.
2.       Televisi Digital
Televisi Digital adalah televisi yang menggunakan modulasi digital dan system kompresui untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari system siaran analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer.
Pendorong perkembangan televisi digital diantara lain :
a.       Perubahan lingkungan eksternal
Pasar televisi analog yang sudah jenuh dan kompetisi dengan system penyiaran satelit dan kabel.
b.       Perkembangan Teknologi
1.       Teknologi pemrosesan sinyal digital
2.       Teknologi transmisi digital
3.       Teknologi semikonduktor
4.       Teknologi peralatan yang beresolusi tinggi
Seiring berjalannya waktu, teknologi di televisi semakin berkembang seperti dibagian layar contohnya. Ada banyak televisi yang menggunakan teknologi terbaru dibagian layarnya.
Televisi pada era Perkembangan teknologi, Plasma TV adalah TV yang paling awal mengusung Slim TV dengan resolusi yang tinggi pada zamannya. TV Plasma menggunakan plasma dibagian layarnya untuk meningkatkan kualitas Refresh Ratenya. Namun Plasma TV memiliki kekurangan yaitu salah satunya adalah berat dan tidak hemat daya listrik karena ukuran yang cukup besar sehingga membuang energi listrik yang cukup besar.
LCD TV mengusung teknologi Liquid Crystal untuk memproduksi gambar di layar TV tersebut. TV jenis ini juga lebih hemat daya dan memiliki ukuran yang bervariasi. LCD TV memiliki teknologi Anti Glare (Tanpa Bayangan), lalu LCD TV juga lebih baik dalam memproduksi ketajaman warna, dan menghasilkan radiasi yang lebih rendah. Namun LCD TV bila kita tonton ketika gelap, maka TV ini akan memproduksi kontras yang kurang baik, sehingga kurang menikmati ketika kita menonton. Lalu, LCD TV akan memproduksi gambar lebih lambat karena tingkat Refresh Rate dan Response Time yang kurang.
LED TV atau Light Emitting Diode TV merupakan salah satu perkembangan baru dalam dunia teknologi TV yang pada dasarnya mengadopsi sistem kerja dari LCD TV namun bedanya sudah dilengkapi dengan teknologi LED backlight. Kelebihan dari LED TV adalah tingkat ketajaman gambar dan gradasi warna yang setara dengan LCD TV, Lebar sudut pandangnya setara dengan Plasma TV dan pengaturan geraknya (Motion-handling) yang melebihi TV Tabung. Selain itu, LED TV dapat dikatakan jauh lebih unggul dibandingkan LCD TV biasa dilihat dari tingkat kontrasnya yang sangat tinggi (1,000,000 : 1), konsumsi listrik yang jauh lebih rendah, dan lebih ramah lingkungan.

Selain dari kelebihan dan kekurangan dibagian jenis televisinya, dibagian fungsi juga ada kelebihan dan kekurangannya.
Kelebihan :
1.       Menyampaikan berita atau informasi secara langsung dan hidup.
2.       Televisi menyampaikan pesannya dengan singkat dan sederhana.
3.       Kita dapat mendengar suara dan melihat gambar dalam waktu yang bersamaan.
4.       Sarana terbaik untuk menyebarkan berita dan berbagai informasi tentang peristiwa atau kejadian yang sangat penting.
5.       Sarana hiburan yang paling baik dan murah.
Kekurangan :
1.       Mengurangi semangat belajar anak
2.       Mendorong anak menjadi konsumtif
3.       Mengurangi kreativitas
4.       Mengurangi konsentrasi
5.       Merenggangkan Hubungan anak dan orang tua

Televisi juga memiliki beberapa fungsi yaitu :
1.       Sebagai Media Informasi
Kita dapat mendengarkan berita sehingga mendapat informasi baru.
2.       Sebagai Media Hiburan
Kita dapat menonton acara yang dapat menghibur kita.
3.       Sebagai Media Promosi
Iklan adalah sebuah bentuk promosi di media Televisi
4.       Sebagai Media Pendidikan
Kita dapat menonton acara yang mengandung unsur yang mendidik.

Saturday, 16 February 2019

Perkembangan Radio dan Alat Perekam

Media Audio bisa menyampaikan pesan verbal maupun pesan non-verbal. Pesan Verbal merupakan pesan yang berupa kata – kata atau lisan. Sedangkan pesan non-verbal merupakan pesan yang berupa sentuhan, gumam, musik, dan lain sebagainya. Kini, anak muda atau anak generasi Milenial mengenal radio dan alat perekam suara.
F. B. Morse, pada tahun 1844, mengirim berita lewat kawat dari Baltimore ke Washington, lalu lahirlah telegrafi. Lalu Alexander Graham Bell berpikir untuk membuat sebuah teknologi untuk mengirimkan pesan melalui suara. Ia berpikir “Kalau bunyi disalurkan melalui kawat, kenapa suara tidak?”. Maka pada tahun 1875, Bell melakukan percakapan lewat telepon.
Tidak lama setelah itu, terbentuklah sebuah teknologi baru, yaitu perekam suara yang ditemukan oleh Thomas Edison yang bernama Phonograf. Melalui teknologi ini orang merekam suara mereka melalui piringan hitam. Seiring perkembangan teknologi, maka orang dapat merekam suara melalui alat perekam yang disebut Casette Tape Recorder.
Salah satu contoh dari media audio adalah Radio. Radio adalah sebuah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (Gelombang Elektromagnetik). Gelombang ini merambat lewat udara dan bisa juga merambat melewati ruang angkasa yang hampa udara. Karena gelombang ini tidak butuh medium pengangkut (Molekul). Pemancar Radio mengubah atau melakukan modulasi gelombang radio agar dapat menyampaikan informasi.
Penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode morse antara kapal dengan darat. Salah satu penggunaannya juga saat Angkatan Laut Jepang memata – matai armada Rusia pada saat perang tahun 1901. Lalu yang paling dikenang adalah saat kejadian tenggelamnya kapal Titanic. Komunikasi dilakukan untuk mengkomunikasikan dari kapal Titanic ke kapal terdekat lainnya dan komunikasi ke stasiun darat mendaftarkan yang terselamatkan. Tidak hanya itu, saat Perang dunia ke 2, kedua belah pihak menggunakan radio untuk berkomunikasi.
Namun setelah berkembangnya zaman, radio digunakan untuk keperluan sehari – hari juga seperti sebagai sarana hiburan, sarana edukasi, dan juga sarana informasi. Maka dari itu munculah Jurnalistik radio.
Pada zaman Orde Baru, Radio sangat diperketat. Radio swasta tidak diperbolehkan membuat berita sendiri. Tidak hanya itu, Radio juga harus menyiarkan berita pemerintah yang memuakan itu melalui RRI, 14 hari sekali. Itu belum masuk siaran langsung.
Pada saat zaman Reformasi, Jurnalistik Radio mulai menjadi bergairah. Seperti menemukan kesenangan dan semangat yang sejati sebagai insan independen dan media yang bertanggung jawab kepada publik. Radio ikut serta dalam menyiarkan detik – detik Mantan Presiden B. J. Habibie diangkat menjadi pengganti dari Soeharto. Hingga terpilihnya Gus Dur melalui pemungutan suara yang demokratis sebagai presiden RI ke empat.
Pada saat ini kita dapat menemukan banyak sekali frekuensi radio yang memperdengarkan para  pendengarnya lagu – lagu atau musik – musik. Itu semua membutuhkan seorang Penyiar Radio. Utnuk menyiarkan radio, penyiar butuh alat recorder, dan lainnya.
Tape Recorder contohnya, pengembangan tape recording yang menggantikan phonograph dan recording optical, karena lebih mudah digunakan dan biayanya yang lebih terjangkau. Tape mulai populer tahun 1950-an. Perkembangan tape recorder ini membawa perubahan yang pesat dalam pembuatan musik. Karena dengantape, proses edit menjadi lebih mudah, pemberian efekfade in dan fade out juga dapat dilakukan. Jika sebelumnya seorang artis harus membawakan lagu dengan sempurna saat direkam, dengan adanya tape recording, proses penambalan dan edit yang lebih mudah menyebabkan berbagai kesalahan dapat diperbaiki dengan mudah.
Lalu pada tahun 1940-an mulainya eksperimen dengan menggunakan multitrack recording yang terus berkembang menjadi lebih rumit hingga tahun 1960-an. Dengan adanya multitrack recording, teknik merekam dengan memisahkan grup artis dapat dilakukan. Efek lain yang ditimbulkan oleh multitrack recording ini adalah munculnya suara stereo. Para insiyur suara pada tahun 1930-an mulai bereksperimen dengan merekam menggunakan 2 microphone, 2 amplifier, dan 2 speaker yang menyebabkan efek aural yang menyenangkan. Pada tahun 1960-an, 8 track player yang biasa diasosiasikan dengan player untuk mobil menjadi sangat popler namun segera mati dan digantikan oleh kaset.
Mulai tahun 1980-an teknologi digital recording mulai berkembang. Tahun 1984 Sony memperkenalkan Compact Disk CD yang berbentuk seperti cakram kecil dengan lubang ditengahnya. Ide dari pembuatan CD ini adalah merampingkan bentuk media penyimpan musik populer selama ini yaitu kaset yang dirasa terlalu besar. Disamping itu pengenalan CD ini juga bertujuan untuk membuat kualitas audio yang dihasilkan menjadi lebih baik selain kepraktisan dalam penyimpanan.

Lahirnya CD kemudian diikuti oleh lahirnya VCD dan DVD yang dapat menyimpan bentuk visual bergerak selain dapat menyimpan bentuk audio. Lahirnya CD dan perkembangannya tidak dapat dipungkiri merupakan awal dari revolusi musik digital karena data-data yang disimpan dalam CD adalah data-data audio dalam format digital. Dan pada tahun 1990-an, budaya rekaman sudah mencapai era yang sangat berubah dari budaya awal. Denagn segala kemudahan menggunakan peralatan multimedia, dengan semuanya sudah berupa file digital, hobbyist dan pemakai komputer biasa sudah bisa merekam dan mengedit materi digital dan me-mixingnya. Musical Instrument Digital Interface (MIDI) juga mengubah bagaimana musik dibuat. Format Audio Digital sendiri banyak sekali macamnya, seperti WAV, AAC, WMA, Ogg Vorbis, Real Audio, MIDI dan tentu saja yang paling populer adalah MP3.

Industri Film Dunia


                Seringkali persoalan atau gejolak klasik dari manusia ini sering tak cepat dipahami, padahal hal ini merupakan pertumbuhan kesatuan yang tumbuh dinamis dan pantas berdampak positif.
                Bila kita lihat sekarang, di era industri film di Indonesia pada masa ini, banyak sekali film yang dibuat tanpa adanya pesan yang jelas dan sering hanya mementingkan rating. Padahal yang menonton film tersebut bukan hanya orang – orang dewasa saja. Tetapi juga banyak anak kecil dan juga remaja yang menonton film tersebut.
                Contoh saja, film yang ada di televisi seperti sinetron. Pada era sekarang, sinetron tidaklah mementingkan pesan untuk para penonton. Pembuat sinetron mementingkan rating yang dia dapat dari sinetron yang ia buat. Padahal anak kecil sampai remaja yang masih perlu dibimbing menonton acara tersebut.
Pemahaman pandangan anak – anak / remaja terhadap film – film yang ditonton di televisi ini pun sering tampak dalam perilaku mengikuti atau mencontoh  apa yang dilihat di televisi.
Bila kita lihat di masa lalu, banyak sekali film yang menurut saya cukup mendidik walaupun tidak jelas apa maksud dari film yang tayang tersebut. Contoh saja, filmnya Charlie Chaplin. Bila kita perhatikan film tersebut hanyalah film hiburan semata dan tidak mengandung sebuah pesan. Tapi bila kita ingin lihat lebih lagi, film tersebut mengajarkan sebuah nilai seni. Film Chaplin hanya menggunakan gerakan, mimik wajah, dan juga alunan musik sebagai pelengkap. Tapi hal tersebut merupakan seni, setiap filmnya menggunakan pantonim. Gerakan tanpa berkata – kata.
Lalu, ada juga produksi film yang cukup baik di era tahun 1920an. Sebuah perusahaan baru yang dimiliki Warner Brothers, yang tumbuh dari kalangan  para operator nickelodeon (bioskop murahan) hingga menjadi raksasa dalam Industri perfilman. Mereka memakai dan mencetak banyak bintang baru dalam sejumlah besar film, dan melalui upaya mereka itulah, tercatat bahwa film The Jazz Singer (Tahun 1927) yang memerlukan biaya sekitar $500.000 untuk membuatnya, menghasilkan keuntungan lima kali lipat dalam penerimaan box officenya, suatu pencapaian tertinggi sebuah film komersial. Tahun 1928, jumlah modal Warner Brothers ditaksir sebesar $16 juta: tahun 1930, setelah sempat mengalami kehancuran tahun 1929, maka modalnya berada pada 230 juta poundsterling.
Amat sukar bagi negara lain untuk menghadang Hollywood, meski dengan berakhirnya film bisu dan diperkenalkannya suara, namun dengan adanya berbagai Bahasa di dunia, digambarkan oleh kalangan broadcasting sebagai dampak “Menara Babel”, telah memberi kesempatan kepada produsen film non Amerika untuk berkiprah, terlepas dari perbedaan yang ada antara bahasa Amerika dan Inggris, tidak terjadi di Inggris. Beraneka ragam budaya nasional dinyatakan dalam film, seringkali dalam bentuk yang tidak disadari, dan terkadang secara disengaja.
Terlihat suatu corak baru dalam tahun 1930an. Depresi telah mendorong pembuatan film yang mencerminkan kepedulian sosial dari para pembuatnya. Di Eropa, beberapa di antaranya dipengaruhi oleh film dokumenter. Bagi Andre Malraux di Prancis, film bicara itu baru menjadi suatu bentuk kesenian ketika para sutradara menyadari bahwa model mereka itu bukanlah piringan hitam (Gramophon), melainkan siaran radio. Akan tetapi sedikit sekali persamaan antara siaran radio dan film musikal berwarna yang mewah yang dibuat di penghujung tahun 1930-an, seperti The Wizard of Oz (1939) atau kisah kepahlawanan Gone with the Wind, yang disiarkan pada tahun yang sama. Dalam situasi Perang Dunia ke II, film – film itu ditonton oleh jumlah pemirsa yang banyak sekali.
Setelah beberapa tahun dunia perfilman berkembang dan juga diikuti teknologi yang semakin berkembang juga, pembuatan sebuah film memakan biaya produksi yang cukup mahal juga. Tidak hanya itu, film – film baru juga memiliki visual efek  yang cukup baik dan menarik untuk ditonton. Contoh dari saya adalah perkembangan visual dari film baru Transformers (Tahun 2007) hingga Transformer 5 (2017). Selama 1 dekade produksi serial film Transformers, kita bisa melihat perkembangan dibagian visual effect. Yang tadinya terlihat seperti buatan computer sampai terlihat seperti asli karena visual efek tersebut.
Setiap film akan dinilai oleh para kritikus film. Kritikus film di Indonesia harus punya daya kritis yang kuat. Tugas dari kritikus film adalah menjembatani sang pembuat film atau creator film dengan para penonton yang awam akan film. Kalau bisa, sang kritikus tersebut dapat menjadi apresiator. Dia tidak hanya menjadi seorang penggemar film, tapi juga menjadi pembawa wawasan baru bagi orang yang awam terhadap film. Tujuannya agar apresiasi film di masyarakat.
Tugas seorang kritikus memang sangat sulit karena banyak juga kritikus film yang terjebak pada masalah teknis. Mungkin ini adalah kelemahan pada kritikus film sehingga setiap pesan sulit untuk dimengerti dan ditambah lagi dengan bahasa yang sulit untuk dimengerti.

Tuesday, 5 February 2019

Industri Majalah dan Buku di Dunia


Majalah dan buku memiliki fungsi yang sama. Fungsi edukatif, Majalah atau buku menaruh inti – inti nilai agar dapat memahami suatu nilai. Juga ada Fungsi Hiburan, Majalah dapat melepaskan kepenatan seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan.
Banyak penerbit buku mulai khawatir akan berkurangnya keuntungan mereka dalam menulis buku dan menerbitkan serta menjual buku. Hal ini dikarenakan akan adanya teknologi internet yang semakin meluas dan semakin dipakai oleh banyak orang dari berbagai generasi, daerah, serta budaya.
Menurut Winarno, Penerbit buku tidak perlu takut dan khawatir sebab di Indonesia, pengguna internet merupakan sebagian kecil dari masyarakat Indonesia (0,05%). Artinya pasar buku tradisional di Indonesia masih akan terbuka luas. Selain itu, menurut beberapa orang membaca buku lebih mengasikan daripada melototi layar monitor komputer atau smartphone. Namun, keberadaan internet juga perlu dimanfaatkan dengan baik oleh para penulis juga penerbit buku di Indonesia, yaitu untuk secara lebih cepat dan murah atau untuk mencari informasi yang kemudian dapat diolah menjadi buku.
Kemajuan teknologi informasi diluar negeri sudah banyak dimanfaatkan untuk mendukung distribusi buku. Sayangnya hal tersebut masih belum diterapkan di Indonesia sendiri. Dalam makalah “Potret Distribusi Buku Indonesia” yang dibawakan oleh Ir.Teddy Surianto, tidak kita temukan gambaran tentang penggunaan teknologi informasi seperti internet untuk membantu industri buku di Indonesia. (Buku dalam Indonesia Baru, Alfons Taryadi)
Diantara 2000 toko buku yang ada di Indonesia, hanya ada sekitar 5% yang dapat dikategorikan sebagai took buku yang modern, kata Direktur Utama PT. Elex Media Komputindo. Sebagai perbandingan ia menggambarkan sistem distribusi buku di Indonesia dengan sistem distribusi buku di Jepang, yang karena jaringannya bekerja dengan efisien, mendorong pesatnya perkembangan industri buku di Jepang. Sekitar 4.324 penerbit buku Jepang menyalurkan 70% dari total produk mereka lewat 100 grosir, yang kemudian mereka menyalurkan kembali ke 27.800 toko buku mulai dari yang berukuran kios hingga yang berukuran toko buku modern.
Keputusan – keputusan yang dibuat di negara maju mengenai hak cipta, impor dan ekspor buku, harga buku seperti peralatan komposisi berbasis komputer, dan bahkan harga kertas internasional, semuanya ditentukan di negara-negara industri. Pada umumnya, setiap putusan oleh kekuatan dominan dalam jaringan pengetahuan diambil dengan pikiran akan kepentingan mereka sendiri, tanpa memperhatikan kebutuhan negara Dunia Ketiga (Atlbach and E. S. Hoshino, 1995, 280).
Jelas antara negara maju dan negara dunia ketiga terdapat kesenjangan yang cukup berarti dalam hal faktor-faktor penerbitan internasional. Dan negara dunia ketiga tidak dapat sepenuhnya bertindak secara otonom dalam hal pengembangan dan penerbitan buku. Hambatan structural semacam ini yang harus dipahami, bila seseorang ingin menangani industry buku yang dari hakekatnya bersifat internasional (Altbach and E. S. Hoshino, 1995, 280).
Perluasan konsep buku membawa ‘Industri Pengetahuan’ kepada suatu tingkat baru kecanggihan teknologis dan ini akan mempunyai dampak positif pada akses terhadap segala macam produk pengetahuan. Namun, hal tersebut juga memiliki dampak negatifnya juga terharap mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi baru atau sumber daya untuk memproduksi produk – produk multimedia yang mahal (Altbach and Damtew Teferra, 13).
Kenyataan bahwa sebagian besar buku yang ada di dunia ditulis dalam bahasa Barat, juga memperparah ketimpangan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Banyak bangsa di dunia ketiga harus mengimpor buku yang hampir selalu ditulis dalam bahasa Barat, atau mereka terpaksa menerjemahkan bahasa asing. Dalam hal ini, bisa dicatat bahwa dari 55.618 judul buku yang diterjemahkan dalam tahun 1983, terdapat 41.740 judul yang aslinya ditulis dalam satu di antara empat bahasa, Inggris, Russia, Perancis, dan juga Jerman. Bahasa sumber terjemahan terbesar di dunia ketiga adalah bahasa Arab, dengan 312 buku. Dan hanya 148 judul buku yang diterjemahkan dari bahasa China ke bahasa lainnya (Altbach and E. S. Hishino, 281).
Menurut Altbach, statistik diatas menunjukan arus pengetahuan dan informasi hampir secara ekslusif bersifat satu arah dari negara industri ke negara di dunia ketiga. Sebaliknya karya ilmiah dan kreatif yang dikerjakan dalam bahasa dunia ketiga jarang mencapai public internasional. Selain itu, patut dicatat bahwa para penerbit yang bukunya diterjemahkan, untuk sebagian terbesar, mengendalikan harga dan arus bahan – bahan yang diterjemahkan (Altbach and E. S. Hoshino, 281).
Mengenai kertas, yang merupakan bahan baku mutlak bagi penerbitan buku, negara dunia ketiga juga dalam posisi lemah. Kebanyakan negara dunia ketiga tidak memproduksi ‘kertas kultural’ dalam humlah yang mencukupi kebutuhan untuk memproduksi sebuah buku yang dibuat oleh penerbit – penerbit dari negara yang ada di dunia ketiga. Kertas kultural yang digunakan untuk membuat buku, harus diimpor dari negara industri seperti Kanada dan Swedia yang menjadi produsen terbesar dan negara besar pengguna kertas seperti Amerika Serikat. Merekalah yang menentukan setiap harga kertas yang dijual di dunia (Altbach and E. S. Hoshino, 283).
Secara verbal, buku menduduki peran penting dalam mencerdaskan masyarakat bangsa Indonesia. Para petinggi Indonesia memiliki penilaian bagus untuk fungsi buku dalam pembangunan. Namun kenyataannya, penerbitan buku di Indonesia, meski sudah dikenal sejak abad ke 19 (Taryadi, 1995, 97), penerbitan buku Indonesia masih belum berkembang.

Saturday, 26 January 2019

Teknologi dan Industri Media: Koran Harian (Surat Kabar)


Koran pada awalnya diproduksi hanya 1 atau 2 lembar saja. Koran yang muncul pertama kali adalah “Acta Diurna” pada tahun 59 SM. Pada abad ke-15, versi awal koran muncul dalam bentuk pamphlet yang disebarkan di kota – kota besar. Dan tidak lama setelah itu, koran – koran komersial mulai banyak bermunculan di Eropa (akhir abad ke-16). Perkembangan koran sangat pesat terutama di wilayah Eropa dan Amerika, karena permintaan pasar juga semakin meningkat. Masyarakat mulai haus berita dan menginginkan sesuatu yang segar tiap harinya.
Manajemen media tidak berbeda dengan manajemen komunikasi, meski sejatinya, keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Secara umum, manajemen komunikasi lebih luas daripada manajemen media. Namun manajemen media bila didalami maka akan menjadi sangat luas dan kompleks. Manajemen media sangat luas karena di dalamnya ada pembahasan mengenai ekonomi media dan juga ekonomi politik media, perkembangan teknologi, serta sistem sosial politik tempat media itu berada. Ekonomi media merupakan salah satu aspek penting dari pembahasan manajemen media yang mencakup aspek ekonomi media, sumber penghasilan, dan lain sebagainya.
Perkembangan teknologi juga merupakan bagian penting karena manajemen media harus selalu melakukan antisipasi terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi. (Manajemen Media di Indonesia, Diyah Hayu Rahmitasari, halaman 3 dan 4)
Persoalan yang dihadapi media koran adalah penurunan tingkat penjualan koran akibat menurunnya minat dari pembaca koran, terutama dikalangan kaum anak muda. Meskipun koran masih dapat mendapatkan uang, mereka semakin sulit untuk menjual tempat kepada pengiklan, terutama ke pengiklan nasional.
Majalah lebih diminati oleh banyak orang dibandingkan dengan koran. Sekitar 92 persen penduduk Amerika Serikat yang berusia dewasa setidaknya membaca satu majalah setiap bulannya dan rata – rata pembaca menghabiskan 44 menit untuk membaca setiap edisi. Pembaca juga menghabiskan lebih banyak waktu membaca majalah ketimbang koran.
Kualitas reproduksi adalah salah satu kekuatan majalah dan iklan majalah, ia memungkinkan produk pengiklan dan citra brand disajikan dalam format yang lebih bagus ketimbang kualitas koran.
Bila dibandingkan dengan koran, majalah jauh memimpin dari segi banyaknya pembaca. Bedasar semua standar demografi, koran adalah medium massa yang solid, menghubungkan 78 persen populasi Amerika Serikat setidaknya seminggu sekali, demikian menurut Newspaper Association of America. Newspaper National Network melaporkan bahwa koran setiap hari dibaca sekitar 78 juta orang atau 52 persen orang dewasa Amerika Serikat. Hampir separuh orang dewasa berlangganan koran minggu; Level pengiriman tertinggi di kota – kota menengah dan terendah di pedesaan dan paling besar di kota metropolitan. Secara historis, pembaca koran paling banyak adalah orang tua dan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dengan pendapatan yang menengah keatas. Yang paling rendah tingkat pembaca koran adalah remaja dan usia awal 20-an dan di kalangan orang yang berpendidikan rendah dengan pendapatan yang rendah juga.
Pembaca koran cenderung selektif dan biasanya hanya membaca pada bagian tertentu yang ada di dalam koran tersebut. Koran bisnis dan organisasi yang memiliki level pembaca yang tertinggi, seperti Ad Age.
Harga kertas yang digunakan perusahaan koran menaik, harga kertas koran yang sangat tinggi tersebut merupakan ancaman maut bagi industri koran, karena sekedar mendapat informasi ringan saja, masyarakat harus membayar biaya yang mahal, sementara penghasilan masyarakat tidak mengalami kenaikan.
Berkurangnya akses informasi masyarakat itu dengan sendirinya akan berdampak pada berkurangnya rasa ingin tahu mereka terhadap situasi dan kondisi yang sedang berkembang di masyarakatnya.
Meningkatnya ongkos produksi koran menyebabkan terjadinya konsolidasi industri koran. Konsolidasi ini membantu industri koran mengimplementasikan teknologi dan mekanisme pengiriman yang baru. Beberapa kemajuan teknologi yaitu sistem informasi sirkulasi online, perpustakaan elektronik, dan database publishing.
Kemunculan internet sebagai mekanisme untuk pengiriman koran, atau sebagian dari koran , menimbulkan dampak besar pada industri koran di dunia, tidak hanya di Indonesia. Hampir semua koran besar dan menengah kini sudah mulai menggunakan sistem koran online dan mulai berkembang. Hasil data dari perusahaan riset Nielsen menunjukan bahwa pengunjung web site koran semakin banyak (72,6 persen dibandingkan 57,8 persen dari keseluruhan pengguna internet di dunia). Lebih jauh, sekitar 88 persen pengunjung web site koran berkunjung sekitar lima kali atau lebih dalam jangka waktu satu minggu. Selain melalui situs konvensional, berita – berita kini didistribusikan pula melalui telepon yang dapat mengaksesnya melalui web, pager, e-mail, dan Palm Pilots. Eksekutif yang sibuk kini dapat mengunduh berita secara online dari Wall Street Journal dan New York Times melalui ponselnya kapan saja dan dimana saja. Publikasi – publikasi online ini semakin penting sebagai sarana iklan. Newspaper Association of America melaporkan pertumbuhan dua digit iklan online sejak NNA mulai mencatatnya pada tahun 2004. (Advertising Ed. 8, Sandra Moriarty, Nancy Mitchell, William Wells, halaman 288)
Pada era modern ini, banyak sekali orang yang mulai berhenti membaca koran. Alasannya bermacam – macam, ada yang bilang karena membaca koran itu membosankan, dan banyak alasan lainnya. Karena hal inilah yang membuat perusahaan koran di tanah air maupun  di dunia mulai membuat koran online yang dapat kita akses dari ponsel atau komputer yang kita miliki, hanya dengan cara membuka aplikasi browser lalu membuka web site koran online yang kita inginkan. Kita dapat membaca koran dimana saja dan kapan saja sesuai dengan berita yang kita butuhkan dan kita inginkan dan juga jauh lebih menarik untuk dibaca daripada koran konvensional. Kita bias memilih berita apa yang ingin kita baca. Tidak hanya itu, dengan adanya koran berbasis online yang dapat kita akses melalui ponsel maupun komputer yang biasa kita pakai kita tidak perlu menambah biaya pembelian koran, karena koran online dapat kita baca secara gratis dan tidak dipungut biaya apapun.
Dengan begitu, secara tidak langsung juga kita mengurangi sampah bumi dan polusi yang ada di bumi karena tidak menggunakan kertas secara berlebihan.

Tuesday, 22 January 2019

Dari Analog ke Konvergensi Media


Dari Analog ke Konvergensi Media
                Konvergensi merupakan perpindahan, persimpangan, atau revolusi dari media lama ke media baru. Konvergensi media tidak selalu berbicara tentang pergeseran teknologi atau proses teknologi, namun termasuk paradigma industri, budaya, dan sosial yang mendorong masyarakat untuk mencari informasi baru.
                Menurut Paschal Preston, dalam bukunya Reshaping Communications, Technology, Information, and Social Change (2001), ia merupakan seorang ahli masyarakat informasi yang melanjutkan pemikiran Bell dans Castells, yakni membahas berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat di era Milenium baru akibat perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih dan semakin meluas. Dalam bukunya, Preston selain mengetengahkan berbagai teori kontemporer tentang masyarakat informasi (Information Society) dan ruang public (Public Sphere), juga mengkaji tentang perkembangan dan peran informasi di dalam masyarakat kapitalisme akhir (Late Capitalism), dan menutupnya dengan bahasan tentang perkembangan informasi yang luar biasa cepat terhadap kesenjangan sosial dan masa depan masyarakat di balik makin meluasnya pemujaan terhadap teknologi informasi.
                Secara garis besar, Preston memaparkan dua proses perubahan yang melatarbelakangi perkembangan pemikirannya. Pertama, terjadinya perluasan yang benar – benar signifikan dalam derajat penekanan pada persoalan teknologi dalam wacana public kontemporer. Kedua, munculnya kesadaran bahwa perkembangan teknologi komunikasi informasi baru telah menjadi jalur khusus dan utama dari proses perubahan sosial, politik, dan budaya di masyarakat post-industrial.
                Menurut pengamatan dan kajian Preston, sejak 1970-an, banyak hal yang terjadi dan telah berubah dalam kehidupan komunikasi manusia, terutama berkaitan dengan makin meluasnya pemakaian teknologi informasi dan media massa. Perubahan yang terjadi di kehidupan masyarakat tidak hanya terjadi menyangkut hal tentang inovasi teknik baru di bidang teknologi dan informasi seperti perkembangan cepat dari Internet/world wide web. Perubahan yang terjadi juga bukan hanya persoalan tentang potensi aplikasi teknologi informasi dan sistem jaringan yang dengan mudah tersebar luas atau pervasive-yang memungkinan manusia menggunakannya baik di tempat kerja maupun di rumah. Masyarakat di era post-industrial menurut preston tidak hanya menghadapi ‘perubahan seismik’ pada sifat infrastruktur teknik teknologi informasi komunikasi yang tersedia sebagaimana kita memulai milenium baru.
                Memasuki era 1990-an, Preston melihat perkembangan baru di dunia informasi dan komunikasi yang benar – benar radikal. Berbeda jauh dengan kondisi 1970-an dan 1980-an dimana yang popular yaitu media baru seperti Televisi kabel dan satelit, perekam kaset video, telepon seluler, komputer PC, dan system musik digital. Pada tahun 1990-an keberadaan teknologi dan media baru yang ada telah dilengkapi dengan gugus baru dari teknologi digital dan tumbuhnya ‘pemusatan’ telekomunikasi modern, yakni computer dan jaringan penyiaran.
                Tidak lebih dari satu dekade,  telepon telah berkembang menjadi telepon seluler (Handphone) yang mudah dibawa kemana – mana dan komputer pribadi yang dari perangkat kerja kantor yang terpaku menjadi terminal fleksibel yang dengan mudah dibawa kemana – mana. Kehadiran komputer juga mempunyai peran baru dalam aktivitas komunikasi di rumah, setidaknya dalam ekonomi industrial modern. Kehadiran komputer pribadi, baik laptop, iPad, dan lain – lain sekarang muncul sebagai pesaing televisi (dan telepon) dan menjadi terminal utama pertumbuhan aktivitas komunikasi di rumah dan kehidupan kita sehari – hari.
                Memasuki era tahun 2000-an, yakni era milenium baru, Preston melihat bahwa system komunikasi multimedia yang interaktif bukan hanya menawarkan kemungkinan komunikasi tanpa batas, melainkan juga kehadiran dunia maya atau realitas virtual yang makin meluas dan nyata. Selain itu, yang lebih penting menurut Preston, di era milenium baru, telah lahir tren baru di dunia industri komunikasi, yakni hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi konvensional. Kehadiran revolusi informasi yang ditandai dengan munculnya teknologi komunikasi dan informasi baru (new media) cepat atau lambat mulai menggeser peran, bahkan mengambil alih hampir semua kemampuan yang dimiliki oleh teknologi konvensional.
                Di era masyarakat post-industrial, teknologi komputer beserta sistem yang ditawarkan, dan kehadiran internet yang memungkinkan para penggunanya menjelajahi ruang dan waktu tanpa batas, menurut Preston kemudian menyatu dengan teknologi media komunikasi konvensional yang bersifat masif. Fenomena penyatuan atau perpaduan teknologi informasi dan komunikasi, media massa, dan media komunikasi konvensional inilah yang sering disebut sebagai suatu proses konvergensi media.
                Preston (2001 : 27) mengatakan, bahwa konvergensi media akan membawa dampak pada perubahan radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi, dalam pemrosesan seluruh bentuk informasi baik visual, audio, teks, data, dan sebagainya.
                Konvergensi Media  merupakan integrasi dari fungsi berbagai media ke dalam suatu media yang lebih canggih dari sebelumnya. Konvergensi media muncul mukan hanya karena didorong oleh kebutuhan pengguna akan beberapa fungsi teknologi, melainkan merupakan implikasi dari akumulasi perkembangan teknologi informasi yang semakin modern  dan meluas.
                Layaknya suatu inovasi yang radikal, munculnya fenomena konvergensi media memang menimbulkan sejumlah konsekuensi dan perubahan sosial yang dahsyat. Bukan hanya memberi informasi yang luas, tapi juga memberikan pilihan yang makin terbuka pada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka berdasarkan apa yang mereka butuhkan.
                Akibat dari penggunaan teknologi komunikasi baru, muncul suatu bentuk ekspresi kultural yang berdampak terhadap pembentukan kultur baru dalam masyarakat. Menurut McLuhan, kemunculan teknologi media telah berdampak terhadap perubahan budaya di tengah masyarakat yang menggantungkan pada teknologi tersebut, sehingga media berperan menciptakan dan mengelola sebuah budaya.