Majalah dan buku memiliki fungsi yang
sama. Fungsi edukatif, Majalah atau buku menaruh inti – inti nilai agar dapat
memahami suatu nilai. Juga ada Fungsi Hiburan, Majalah dapat melepaskan
kepenatan seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan.
Banyak penerbit buku mulai khawatir
akan berkurangnya keuntungan mereka dalam menulis buku dan menerbitkan serta
menjual buku. Hal ini dikarenakan akan adanya teknologi internet yang semakin
meluas dan semakin dipakai oleh banyak orang dari berbagai generasi, daerah,
serta budaya.
Menurut Winarno, Penerbit buku tidak
perlu takut dan khawatir sebab di Indonesia, pengguna internet merupakan
sebagian kecil dari masyarakat Indonesia (0,05%). Artinya pasar buku tradisional
di Indonesia masih akan terbuka luas. Selain itu, menurut beberapa orang
membaca buku lebih mengasikan daripada melototi layar monitor komputer atau
smartphone. Namun, keberadaan internet juga perlu dimanfaatkan dengan baik oleh
para penulis juga penerbit buku di Indonesia, yaitu untuk secara lebih cepat
dan murah atau untuk mencari informasi yang kemudian dapat diolah menjadi buku.
Kemajuan teknologi informasi diluar
negeri sudah banyak dimanfaatkan untuk mendukung distribusi buku. Sayangnya hal
tersebut masih belum diterapkan di Indonesia sendiri. Dalam makalah “Potret
Distribusi Buku Indonesia” yang dibawakan oleh Ir.Teddy Surianto, tidak kita
temukan gambaran tentang penggunaan teknologi informasi seperti internet untuk
membantu industri buku di Indonesia. (Buku
dalam Indonesia Baru, Alfons Taryadi)
Diantara 2000 toko buku yang ada di
Indonesia, hanya ada sekitar 5% yang dapat dikategorikan sebagai took buku yang
modern, kata Direktur Utama PT. Elex Media Komputindo. Sebagai perbandingan ia
menggambarkan sistem distribusi buku di Indonesia dengan sistem distribusi buku
di Jepang, yang karena jaringannya bekerja dengan efisien, mendorong pesatnya
perkembangan industri buku di Jepang. Sekitar 4.324 penerbit buku Jepang
menyalurkan 70% dari total produk mereka lewat 100 grosir, yang kemudian mereka
menyalurkan kembali ke 27.800 toko buku mulai dari yang berukuran kios hingga
yang berukuran toko buku modern.
Keputusan – keputusan yang dibuat di
negara maju mengenai hak cipta, impor dan ekspor buku, harga buku seperti
peralatan komposisi berbasis komputer, dan bahkan harga kertas internasional,
semuanya ditentukan di negara-negara industri. Pada umumnya, setiap putusan
oleh kekuatan dominan dalam jaringan pengetahuan diambil dengan pikiran akan
kepentingan mereka sendiri, tanpa memperhatikan kebutuhan negara Dunia Ketiga
(Atlbach and E. S. Hoshino, 1995, 280).
Jelas antara negara maju dan negara
dunia ketiga terdapat kesenjangan yang cukup berarti dalam hal faktor-faktor
penerbitan internasional. Dan negara dunia ketiga tidak dapat sepenuhnya
bertindak secara otonom dalam hal pengembangan dan penerbitan buku. Hambatan
structural semacam ini yang harus dipahami, bila seseorang ingin menangani
industry buku yang dari hakekatnya bersifat internasional (Altbach and E. S.
Hoshino, 1995, 280).
Perluasan konsep buku membawa
‘Industri Pengetahuan’ kepada suatu tingkat baru kecanggihan teknologis dan ini
akan mempunyai dampak positif pada akses terhadap segala macam produk
pengetahuan. Namun, hal tersebut juga memiliki dampak negatifnya juga terharap
mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi baru atau sumber daya untuk
memproduksi produk – produk multimedia yang mahal (Altbach and Damtew Teferra,
13).
Kenyataan bahwa sebagian besar buku
yang ada di dunia ditulis dalam bahasa Barat, juga memperparah ketimpangan
antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Banyak bangsa di dunia
ketiga harus mengimpor buku yang hampir selalu ditulis dalam bahasa Barat, atau
mereka terpaksa menerjemahkan bahasa asing. Dalam hal ini, bisa dicatat bahwa
dari 55.618 judul buku yang diterjemahkan dalam tahun 1983, terdapat 41.740
judul yang aslinya ditulis dalam satu di antara empat bahasa, Inggris, Russia,
Perancis, dan juga Jerman. Bahasa sumber terjemahan terbesar di dunia ketiga
adalah bahasa Arab, dengan 312 buku. Dan hanya 148 judul buku yang
diterjemahkan dari bahasa China ke bahasa lainnya (Altbach and E. S. Hishino,
281).
Menurut Altbach, statistik diatas
menunjukan arus pengetahuan dan informasi hampir secara ekslusif bersifat satu
arah dari negara industri ke negara di dunia ketiga. Sebaliknya karya ilmiah
dan kreatif yang dikerjakan dalam bahasa dunia ketiga jarang mencapai public
internasional. Selain itu, patut dicatat bahwa para penerbit yang bukunya
diterjemahkan, untuk sebagian terbesar, mengendalikan harga dan arus bahan –
bahan yang diterjemahkan (Altbach and E. S. Hoshino, 281).
Mengenai kertas, yang merupakan bahan
baku mutlak bagi penerbitan buku, negara dunia ketiga juga dalam posisi lemah.
Kebanyakan negara dunia ketiga tidak memproduksi ‘kertas kultural’ dalam humlah
yang mencukupi kebutuhan untuk memproduksi sebuah buku yang dibuat oleh
penerbit – penerbit dari negara yang ada di dunia ketiga. Kertas kultural yang
digunakan untuk membuat buku, harus diimpor dari negara industri seperti Kanada
dan Swedia yang menjadi produsen terbesar dan negara besar pengguna kertas
seperti Amerika Serikat. Merekalah yang menentukan setiap harga kertas yang
dijual di dunia (Altbach and E. S. Hoshino, 283).
Secara verbal, buku menduduki peran
penting dalam mencerdaskan masyarakat bangsa Indonesia. Para petinggi Indonesia
memiliki penilaian bagus untuk fungsi buku dalam pembangunan. Namun
kenyataannya, penerbitan buku di Indonesia, meski sudah dikenal sejak abad ke
19 (Taryadi, 1995, 97), penerbitan buku Indonesia masih belum berkembang.
No comments:
Post a Comment