Tuesday, 5 February 2019

Industri Majalah dan Buku di Dunia


Majalah dan buku memiliki fungsi yang sama. Fungsi edukatif, Majalah atau buku menaruh inti – inti nilai agar dapat memahami suatu nilai. Juga ada Fungsi Hiburan, Majalah dapat melepaskan kepenatan seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan.
Banyak penerbit buku mulai khawatir akan berkurangnya keuntungan mereka dalam menulis buku dan menerbitkan serta menjual buku. Hal ini dikarenakan akan adanya teknologi internet yang semakin meluas dan semakin dipakai oleh banyak orang dari berbagai generasi, daerah, serta budaya.
Menurut Winarno, Penerbit buku tidak perlu takut dan khawatir sebab di Indonesia, pengguna internet merupakan sebagian kecil dari masyarakat Indonesia (0,05%). Artinya pasar buku tradisional di Indonesia masih akan terbuka luas. Selain itu, menurut beberapa orang membaca buku lebih mengasikan daripada melototi layar monitor komputer atau smartphone. Namun, keberadaan internet juga perlu dimanfaatkan dengan baik oleh para penulis juga penerbit buku di Indonesia, yaitu untuk secara lebih cepat dan murah atau untuk mencari informasi yang kemudian dapat diolah menjadi buku.
Kemajuan teknologi informasi diluar negeri sudah banyak dimanfaatkan untuk mendukung distribusi buku. Sayangnya hal tersebut masih belum diterapkan di Indonesia sendiri. Dalam makalah “Potret Distribusi Buku Indonesia” yang dibawakan oleh Ir.Teddy Surianto, tidak kita temukan gambaran tentang penggunaan teknologi informasi seperti internet untuk membantu industri buku di Indonesia. (Buku dalam Indonesia Baru, Alfons Taryadi)
Diantara 2000 toko buku yang ada di Indonesia, hanya ada sekitar 5% yang dapat dikategorikan sebagai took buku yang modern, kata Direktur Utama PT. Elex Media Komputindo. Sebagai perbandingan ia menggambarkan sistem distribusi buku di Indonesia dengan sistem distribusi buku di Jepang, yang karena jaringannya bekerja dengan efisien, mendorong pesatnya perkembangan industri buku di Jepang. Sekitar 4.324 penerbit buku Jepang menyalurkan 70% dari total produk mereka lewat 100 grosir, yang kemudian mereka menyalurkan kembali ke 27.800 toko buku mulai dari yang berukuran kios hingga yang berukuran toko buku modern.
Keputusan – keputusan yang dibuat di negara maju mengenai hak cipta, impor dan ekspor buku, harga buku seperti peralatan komposisi berbasis komputer, dan bahkan harga kertas internasional, semuanya ditentukan di negara-negara industri. Pada umumnya, setiap putusan oleh kekuatan dominan dalam jaringan pengetahuan diambil dengan pikiran akan kepentingan mereka sendiri, tanpa memperhatikan kebutuhan negara Dunia Ketiga (Atlbach and E. S. Hoshino, 1995, 280).
Jelas antara negara maju dan negara dunia ketiga terdapat kesenjangan yang cukup berarti dalam hal faktor-faktor penerbitan internasional. Dan negara dunia ketiga tidak dapat sepenuhnya bertindak secara otonom dalam hal pengembangan dan penerbitan buku. Hambatan structural semacam ini yang harus dipahami, bila seseorang ingin menangani industry buku yang dari hakekatnya bersifat internasional (Altbach and E. S. Hoshino, 1995, 280).
Perluasan konsep buku membawa ‘Industri Pengetahuan’ kepada suatu tingkat baru kecanggihan teknologis dan ini akan mempunyai dampak positif pada akses terhadap segala macam produk pengetahuan. Namun, hal tersebut juga memiliki dampak negatifnya juga terharap mereka yang tidak memiliki akses terhadap teknologi baru atau sumber daya untuk memproduksi produk – produk multimedia yang mahal (Altbach and Damtew Teferra, 13).
Kenyataan bahwa sebagian besar buku yang ada di dunia ditulis dalam bahasa Barat, juga memperparah ketimpangan antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Banyak bangsa di dunia ketiga harus mengimpor buku yang hampir selalu ditulis dalam bahasa Barat, atau mereka terpaksa menerjemahkan bahasa asing. Dalam hal ini, bisa dicatat bahwa dari 55.618 judul buku yang diterjemahkan dalam tahun 1983, terdapat 41.740 judul yang aslinya ditulis dalam satu di antara empat bahasa, Inggris, Russia, Perancis, dan juga Jerman. Bahasa sumber terjemahan terbesar di dunia ketiga adalah bahasa Arab, dengan 312 buku. Dan hanya 148 judul buku yang diterjemahkan dari bahasa China ke bahasa lainnya (Altbach and E. S. Hishino, 281).
Menurut Altbach, statistik diatas menunjukan arus pengetahuan dan informasi hampir secara ekslusif bersifat satu arah dari negara industri ke negara di dunia ketiga. Sebaliknya karya ilmiah dan kreatif yang dikerjakan dalam bahasa dunia ketiga jarang mencapai public internasional. Selain itu, patut dicatat bahwa para penerbit yang bukunya diterjemahkan, untuk sebagian terbesar, mengendalikan harga dan arus bahan – bahan yang diterjemahkan (Altbach and E. S. Hoshino, 281).
Mengenai kertas, yang merupakan bahan baku mutlak bagi penerbitan buku, negara dunia ketiga juga dalam posisi lemah. Kebanyakan negara dunia ketiga tidak memproduksi ‘kertas kultural’ dalam humlah yang mencukupi kebutuhan untuk memproduksi sebuah buku yang dibuat oleh penerbit – penerbit dari negara yang ada di dunia ketiga. Kertas kultural yang digunakan untuk membuat buku, harus diimpor dari negara industri seperti Kanada dan Swedia yang menjadi produsen terbesar dan negara besar pengguna kertas seperti Amerika Serikat. Merekalah yang menentukan setiap harga kertas yang dijual di dunia (Altbach and E. S. Hoshino, 283).
Secara verbal, buku menduduki peran penting dalam mencerdaskan masyarakat bangsa Indonesia. Para petinggi Indonesia memiliki penilaian bagus untuk fungsi buku dalam pembangunan. Namun kenyataannya, penerbitan buku di Indonesia, meski sudah dikenal sejak abad ke 19 (Taryadi, 1995, 97), penerbitan buku Indonesia masih belum berkembang.

No comments:

Post a Comment