Saturday, 16 February 2019

Industri Film Dunia


                Seringkali persoalan atau gejolak klasik dari manusia ini sering tak cepat dipahami, padahal hal ini merupakan pertumbuhan kesatuan yang tumbuh dinamis dan pantas berdampak positif.
                Bila kita lihat sekarang, di era industri film di Indonesia pada masa ini, banyak sekali film yang dibuat tanpa adanya pesan yang jelas dan sering hanya mementingkan rating. Padahal yang menonton film tersebut bukan hanya orang – orang dewasa saja. Tetapi juga banyak anak kecil dan juga remaja yang menonton film tersebut.
                Contoh saja, film yang ada di televisi seperti sinetron. Pada era sekarang, sinetron tidaklah mementingkan pesan untuk para penonton. Pembuat sinetron mementingkan rating yang dia dapat dari sinetron yang ia buat. Padahal anak kecil sampai remaja yang masih perlu dibimbing menonton acara tersebut.
Pemahaman pandangan anak – anak / remaja terhadap film – film yang ditonton di televisi ini pun sering tampak dalam perilaku mengikuti atau mencontoh  apa yang dilihat di televisi.
Bila kita lihat di masa lalu, banyak sekali film yang menurut saya cukup mendidik walaupun tidak jelas apa maksud dari film yang tayang tersebut. Contoh saja, filmnya Charlie Chaplin. Bila kita perhatikan film tersebut hanyalah film hiburan semata dan tidak mengandung sebuah pesan. Tapi bila kita ingin lihat lebih lagi, film tersebut mengajarkan sebuah nilai seni. Film Chaplin hanya menggunakan gerakan, mimik wajah, dan juga alunan musik sebagai pelengkap. Tapi hal tersebut merupakan seni, setiap filmnya menggunakan pantonim. Gerakan tanpa berkata – kata.
Lalu, ada juga produksi film yang cukup baik di era tahun 1920an. Sebuah perusahaan baru yang dimiliki Warner Brothers, yang tumbuh dari kalangan  para operator nickelodeon (bioskop murahan) hingga menjadi raksasa dalam Industri perfilman. Mereka memakai dan mencetak banyak bintang baru dalam sejumlah besar film, dan melalui upaya mereka itulah, tercatat bahwa film The Jazz Singer (Tahun 1927) yang memerlukan biaya sekitar $500.000 untuk membuatnya, menghasilkan keuntungan lima kali lipat dalam penerimaan box officenya, suatu pencapaian tertinggi sebuah film komersial. Tahun 1928, jumlah modal Warner Brothers ditaksir sebesar $16 juta: tahun 1930, setelah sempat mengalami kehancuran tahun 1929, maka modalnya berada pada 230 juta poundsterling.
Amat sukar bagi negara lain untuk menghadang Hollywood, meski dengan berakhirnya film bisu dan diperkenalkannya suara, namun dengan adanya berbagai Bahasa di dunia, digambarkan oleh kalangan broadcasting sebagai dampak “Menara Babel”, telah memberi kesempatan kepada produsen film non Amerika untuk berkiprah, terlepas dari perbedaan yang ada antara bahasa Amerika dan Inggris, tidak terjadi di Inggris. Beraneka ragam budaya nasional dinyatakan dalam film, seringkali dalam bentuk yang tidak disadari, dan terkadang secara disengaja.
Terlihat suatu corak baru dalam tahun 1930an. Depresi telah mendorong pembuatan film yang mencerminkan kepedulian sosial dari para pembuatnya. Di Eropa, beberapa di antaranya dipengaruhi oleh film dokumenter. Bagi Andre Malraux di Prancis, film bicara itu baru menjadi suatu bentuk kesenian ketika para sutradara menyadari bahwa model mereka itu bukanlah piringan hitam (Gramophon), melainkan siaran radio. Akan tetapi sedikit sekali persamaan antara siaran radio dan film musikal berwarna yang mewah yang dibuat di penghujung tahun 1930-an, seperti The Wizard of Oz (1939) atau kisah kepahlawanan Gone with the Wind, yang disiarkan pada tahun yang sama. Dalam situasi Perang Dunia ke II, film – film itu ditonton oleh jumlah pemirsa yang banyak sekali.
Setelah beberapa tahun dunia perfilman berkembang dan juga diikuti teknologi yang semakin berkembang juga, pembuatan sebuah film memakan biaya produksi yang cukup mahal juga. Tidak hanya itu, film – film baru juga memiliki visual efek  yang cukup baik dan menarik untuk ditonton. Contoh dari saya adalah perkembangan visual dari film baru Transformers (Tahun 2007) hingga Transformer 5 (2017). Selama 1 dekade produksi serial film Transformers, kita bisa melihat perkembangan dibagian visual effect. Yang tadinya terlihat seperti buatan computer sampai terlihat seperti asli karena visual efek tersebut.
Setiap film akan dinilai oleh para kritikus film. Kritikus film di Indonesia harus punya daya kritis yang kuat. Tugas dari kritikus film adalah menjembatani sang pembuat film atau creator film dengan para penonton yang awam akan film. Kalau bisa, sang kritikus tersebut dapat menjadi apresiator. Dia tidak hanya menjadi seorang penggemar film, tapi juga menjadi pembawa wawasan baru bagi orang yang awam terhadap film. Tujuannya agar apresiasi film di masyarakat.
Tugas seorang kritikus memang sangat sulit karena banyak juga kritikus film yang terjebak pada masalah teknis. Mungkin ini adalah kelemahan pada kritikus film sehingga setiap pesan sulit untuk dimengerti dan ditambah lagi dengan bahasa yang sulit untuk dimengerti.

No comments:

Post a Comment