Seringkali persoalan atau gejolak klasik dari manusia
ini sering tak cepat dipahami, padahal hal ini merupakan pertumbuhan kesatuan
yang tumbuh dinamis dan pantas berdampak positif.
Bila kita lihat sekarang, di era industri film di
Indonesia pada masa ini, banyak sekali film yang dibuat tanpa adanya pesan yang
jelas dan sering hanya mementingkan rating. Padahal yang menonton film tersebut
bukan hanya orang – orang dewasa saja. Tetapi juga banyak anak kecil dan juga
remaja yang menonton film tersebut.
Contoh saja, film yang ada di televisi seperti
sinetron. Pada era sekarang, sinetron tidaklah mementingkan pesan untuk para
penonton. Pembuat sinetron mementingkan rating yang dia dapat dari sinetron
yang ia buat. Padahal anak kecil sampai remaja yang masih perlu dibimbing menonton
acara tersebut.
Pemahaman pandangan
anak – anak / remaja terhadap film – film yang ditonton di televisi ini pun
sering tampak dalam perilaku mengikuti atau mencontoh apa yang dilihat di televisi.
Bila kita
lihat di masa lalu, banyak sekali film yang menurut saya cukup mendidik walaupun
tidak jelas apa maksud dari film yang tayang tersebut. Contoh saja, filmnya
Charlie Chaplin. Bila kita perhatikan film tersebut hanyalah film hiburan
semata dan tidak mengandung sebuah pesan. Tapi bila kita ingin lihat lebih
lagi, film tersebut mengajarkan sebuah nilai seni. Film Chaplin hanya
menggunakan gerakan, mimik wajah, dan juga alunan musik sebagai pelengkap. Tapi
hal tersebut merupakan seni, setiap filmnya menggunakan pantonim. Gerakan tanpa
berkata – kata.
Lalu, ada juga
produksi film yang cukup baik di era tahun 1920an. Sebuah perusahaan baru yang
dimiliki Warner Brothers, yang tumbuh dari kalangan para operator nickelodeon (bioskop murahan)
hingga menjadi raksasa dalam Industri perfilman. Mereka memakai dan mencetak
banyak bintang baru dalam sejumlah besar film, dan melalui upaya mereka itulah,
tercatat bahwa film The Jazz Singer (Tahun
1927) yang memerlukan biaya sekitar $500.000 untuk membuatnya, menghasilkan
keuntungan lima kali lipat dalam penerimaan box officenya, suatu pencapaian
tertinggi sebuah film komersial. Tahun 1928, jumlah modal Warner Brothers
ditaksir sebesar $16 juta: tahun 1930, setelah sempat mengalami kehancuran
tahun 1929, maka modalnya berada pada 230 juta poundsterling.
Amat sukar
bagi negara lain untuk menghadang Hollywood, meski dengan berakhirnya film bisu
dan diperkenalkannya suara, namun dengan adanya berbagai Bahasa di dunia,
digambarkan oleh kalangan broadcasting sebagai dampak “Menara Babel”, telah
memberi kesempatan kepada produsen film non Amerika untuk berkiprah, terlepas
dari perbedaan yang ada antara bahasa Amerika dan Inggris, tidak terjadi di
Inggris. Beraneka ragam budaya nasional dinyatakan dalam film, seringkali dalam
bentuk yang tidak disadari, dan terkadang secara disengaja.
Terlihat suatu
corak baru dalam tahun 1930an. Depresi telah mendorong pembuatan film yang
mencerminkan kepedulian sosial dari para pembuatnya. Di Eropa, beberapa di antaranya
dipengaruhi oleh film dokumenter. Bagi Andre Malraux di Prancis, film bicara
itu baru menjadi suatu bentuk kesenian ketika para sutradara menyadari bahwa
model mereka itu bukanlah piringan hitam (Gramophon), melainkan siaran radio. Akan
tetapi sedikit sekali persamaan antara siaran radio dan film musikal berwarna yang
mewah yang dibuat di penghujung tahun 1930-an, seperti The Wizard of Oz (1939) atau kisah kepahlawanan Gone with the Wind, yang disiarkan pada
tahun yang sama. Dalam situasi Perang Dunia ke II, film – film itu ditonton
oleh jumlah pemirsa yang banyak sekali.
Setelah
beberapa tahun dunia perfilman berkembang dan juga diikuti teknologi yang
semakin berkembang juga, pembuatan sebuah film memakan biaya produksi yang
cukup mahal juga. Tidak hanya itu, film – film baru juga memiliki visual
efek yang cukup baik dan menarik untuk
ditonton. Contoh dari saya adalah perkembangan visual dari film baru Transformers (Tahun 2007) hingga Transformer 5 (2017). Selama 1 dekade
produksi serial film Transformers,
kita bisa melihat perkembangan dibagian visual effect. Yang tadinya terlihat
seperti buatan computer sampai terlihat seperti asli karena visual efek
tersebut.
Setiap film akan
dinilai oleh para kritikus film. Kritikus film di Indonesia harus punya daya
kritis yang kuat. Tugas dari kritikus film adalah menjembatani sang pembuat
film atau creator film dengan para penonton yang awam akan film. Kalau bisa,
sang kritikus tersebut dapat menjadi apresiator. Dia tidak hanya menjadi
seorang penggemar film, tapi juga menjadi pembawa wawasan baru bagi orang yang
awam terhadap film. Tujuannya agar apresiasi film di masyarakat.
Tugas seorang
kritikus memang sangat sulit karena banyak juga kritikus film yang terjebak
pada masalah teknis. Mungkin ini adalah kelemahan pada kritikus film sehingga setiap
pesan sulit untuk dimengerti dan ditambah lagi dengan bahasa yang sulit untuk
dimengerti.
No comments:
Post a Comment