Saturday, 16 February 2019

Perkembangan Radio dan Alat Perekam

Media Audio bisa menyampaikan pesan verbal maupun pesan non-verbal. Pesan Verbal merupakan pesan yang berupa kata – kata atau lisan. Sedangkan pesan non-verbal merupakan pesan yang berupa sentuhan, gumam, musik, dan lain sebagainya. Kini, anak muda atau anak generasi Milenial mengenal radio dan alat perekam suara.
F. B. Morse, pada tahun 1844, mengirim berita lewat kawat dari Baltimore ke Washington, lalu lahirlah telegrafi. Lalu Alexander Graham Bell berpikir untuk membuat sebuah teknologi untuk mengirimkan pesan melalui suara. Ia berpikir “Kalau bunyi disalurkan melalui kawat, kenapa suara tidak?”. Maka pada tahun 1875, Bell melakukan percakapan lewat telepon.
Tidak lama setelah itu, terbentuklah sebuah teknologi baru, yaitu perekam suara yang ditemukan oleh Thomas Edison yang bernama Phonograf. Melalui teknologi ini orang merekam suara mereka melalui piringan hitam. Seiring perkembangan teknologi, maka orang dapat merekam suara melalui alat perekam yang disebut Casette Tape Recorder.
Salah satu contoh dari media audio adalah Radio. Radio adalah sebuah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (Gelombang Elektromagnetik). Gelombang ini merambat lewat udara dan bisa juga merambat melewati ruang angkasa yang hampa udara. Karena gelombang ini tidak butuh medium pengangkut (Molekul). Pemancar Radio mengubah atau melakukan modulasi gelombang radio agar dapat menyampaikan informasi.
Penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode morse antara kapal dengan darat. Salah satu penggunaannya juga saat Angkatan Laut Jepang memata – matai armada Rusia pada saat perang tahun 1901. Lalu yang paling dikenang adalah saat kejadian tenggelamnya kapal Titanic. Komunikasi dilakukan untuk mengkomunikasikan dari kapal Titanic ke kapal terdekat lainnya dan komunikasi ke stasiun darat mendaftarkan yang terselamatkan. Tidak hanya itu, saat Perang dunia ke 2, kedua belah pihak menggunakan radio untuk berkomunikasi.
Namun setelah berkembangnya zaman, radio digunakan untuk keperluan sehari – hari juga seperti sebagai sarana hiburan, sarana edukasi, dan juga sarana informasi. Maka dari itu munculah Jurnalistik radio.
Pada zaman Orde Baru, Radio sangat diperketat. Radio swasta tidak diperbolehkan membuat berita sendiri. Tidak hanya itu, Radio juga harus menyiarkan berita pemerintah yang memuakan itu melalui RRI, 14 hari sekali. Itu belum masuk siaran langsung.
Pada saat zaman Reformasi, Jurnalistik Radio mulai menjadi bergairah. Seperti menemukan kesenangan dan semangat yang sejati sebagai insan independen dan media yang bertanggung jawab kepada publik. Radio ikut serta dalam menyiarkan detik – detik Mantan Presiden B. J. Habibie diangkat menjadi pengganti dari Soeharto. Hingga terpilihnya Gus Dur melalui pemungutan suara yang demokratis sebagai presiden RI ke empat.
Pada saat ini kita dapat menemukan banyak sekali frekuensi radio yang memperdengarkan para  pendengarnya lagu – lagu atau musik – musik. Itu semua membutuhkan seorang Penyiar Radio. Utnuk menyiarkan radio, penyiar butuh alat recorder, dan lainnya.
Tape Recorder contohnya, pengembangan tape recording yang menggantikan phonograph dan recording optical, karena lebih mudah digunakan dan biayanya yang lebih terjangkau. Tape mulai populer tahun 1950-an. Perkembangan tape recorder ini membawa perubahan yang pesat dalam pembuatan musik. Karena dengantape, proses edit menjadi lebih mudah, pemberian efekfade in dan fade out juga dapat dilakukan. Jika sebelumnya seorang artis harus membawakan lagu dengan sempurna saat direkam, dengan adanya tape recording, proses penambalan dan edit yang lebih mudah menyebabkan berbagai kesalahan dapat diperbaiki dengan mudah.
Lalu pada tahun 1940-an mulainya eksperimen dengan menggunakan multitrack recording yang terus berkembang menjadi lebih rumit hingga tahun 1960-an. Dengan adanya multitrack recording, teknik merekam dengan memisahkan grup artis dapat dilakukan. Efek lain yang ditimbulkan oleh multitrack recording ini adalah munculnya suara stereo. Para insiyur suara pada tahun 1930-an mulai bereksperimen dengan merekam menggunakan 2 microphone, 2 amplifier, dan 2 speaker yang menyebabkan efek aural yang menyenangkan. Pada tahun 1960-an, 8 track player yang biasa diasosiasikan dengan player untuk mobil menjadi sangat popler namun segera mati dan digantikan oleh kaset.
Mulai tahun 1980-an teknologi digital recording mulai berkembang. Tahun 1984 Sony memperkenalkan Compact Disk CD yang berbentuk seperti cakram kecil dengan lubang ditengahnya. Ide dari pembuatan CD ini adalah merampingkan bentuk media penyimpan musik populer selama ini yaitu kaset yang dirasa terlalu besar. Disamping itu pengenalan CD ini juga bertujuan untuk membuat kualitas audio yang dihasilkan menjadi lebih baik selain kepraktisan dalam penyimpanan.

Lahirnya CD kemudian diikuti oleh lahirnya VCD dan DVD yang dapat menyimpan bentuk visual bergerak selain dapat menyimpan bentuk audio. Lahirnya CD dan perkembangannya tidak dapat dipungkiri merupakan awal dari revolusi musik digital karena data-data yang disimpan dalam CD adalah data-data audio dalam format digital. Dan pada tahun 1990-an, budaya rekaman sudah mencapai era yang sangat berubah dari budaya awal. Denagn segala kemudahan menggunakan peralatan multimedia, dengan semuanya sudah berupa file digital, hobbyist dan pemakai komputer biasa sudah bisa merekam dan mengedit materi digital dan me-mixingnya. Musical Instrument Digital Interface (MIDI) juga mengubah bagaimana musik dibuat. Format Audio Digital sendiri banyak sekali macamnya, seperti WAV, AAC, WMA, Ogg Vorbis, Real Audio, MIDI dan tentu saja yang paling populer adalah MP3.

No comments:

Post a Comment